Rabu, 30 Maret 2011

Benih dan Pedagang Keliling

Seorang pedagang keliling menjajakan dagangannya berkelilling kampung. Seperti biasanya, sang pedagang keliling itu selalu ditemani putranya. Siang itu mentari bersinar terik, memaksa mereka berdua yang kelelahan untuk beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon. Mereka duduk di atas sehelai tikar di bawah sebuah pohon besar.

Angin sepoi semilir berhembus, membuat sang pedagang itu mulai mengantuk. Namun sang bayu tak mampu membuai putra si pedagang, ia terus berpikir tentang dirinya dan keinginannya. Tiba-tiba, "Ayah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan..." terdengar suaranya mengusik ambang sadar si pedagang.

"Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa ikut memikul dagangan kita?"

"Sepertinya, aku tak akan bisa besar. Tubuhku kurus kerempeng dan kecil seperti Ibu, sangat jauh berbeda dengan postur tubuh Ayah yang tegap dan berbadan kekar, sehingga mampu memikul dagangan yang begitu berat serta berjalan kaki setiap hari. Kupikir, dengan keadaan fisik tubuhku seperti ini, tak mungkin aku sanggup memikul dagangan kita," lanjutnya. Jari tangannya mengores-gores di atas tanah.

Belum sempat ayahnya menjawab, ia kembali melanjutkan, "bagaimana caranya agar tubuhku bisa menjadi kekar dan gagah sepertimu, Ayah?"

Sang Ayah yang awalnya mengantuk, menjadi terbangun dan seketika hilang rasa kantuknya mendengar pertanyaan anaknya. Reflek, tangan pedagang tadi mencabut sebuah benih tanaman yang sedang bertunas, yang kebetulan tumbuh tidak jauh dari tempat mereka duduk beristirahat. Dicabutnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benih itu terlihat seperti biji kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Beberapa saat kemudian, pedagang tadi bicara dengan anaknya.

"Nak, jangan pernah malu dengan ukuran tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang seperti ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama".

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah, Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Untuk tumbuh menjadi sebesar pohon ini, setiap benih membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Untuk itulah, semua benih ini berterima kasih kepada angin, air dan cahaya matahari, sebab mereka lah yang melatih benih-benih kecil sehingga mereka tumbuh menjadi pohon yang besar."

"Saatnya nanti akan tiba, kamu akan tumbuh menjadi pemuda dan akan mempunyai postur tubuh seperti ayah. Untuk itu janganlah pernah takut untuk berharap menjadi besar, untuk mencapai proses itu hanya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran."

Selesai mengucapkan kalimat itu, si pedagang memandang anaknya dengan penuh kasing sayang. Mata mereka beradu pandang, terlihat senyuman di wajah mereka. Si bocah tampak puas dengan penuturan sang ayah.

Keduanya lalu merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak mereka. Tidak lama kemudian, keduanya terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian berjalan kaki menyusuri panasnya aspal jalanan.

Dalam hidup ini, janganlah pernah kita merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah SWT, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan.

Mungkin pada saat tertentu, kita pernah merasa kecil, tidak mampu, tidak berdaya sama sekali menghadapi persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?

Kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?

Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tentu saja tidak. Karena Ia Maha Tahu, bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan.

Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam diri kita dan itu sudah menjadi fitrah hidup kita.

Sumber : Cyber News

Tidak ada komentar: