Kamis, 31 Maret 2011

Larutan Penyegar Hati

Aku bukan tak ingin kaya.
Juga tak ingin hidup miskin.
Aku hanya ingin memilih selalu hidup sederhana.
Aku ingin menjadi orang biasa.

Biarlah rumah kami begini, apa adanya, asal keluargaku dapat berteduh dan beristirahat,

terhindar dari panasnya matahari dan basahnya hujan.

Rumah model kampung dan tak mengikuti tren arsitektur terbaru.

Tak harus mewah, tak harus terlihat indah dan artistik.

Aku malu pada Rasul yang hanya tidur di atas tikar kasar tiap harinya,

sementara di rumahku tersedia kasur spring bed yang kadang

terlalu memanjakan penggunanya sehingga terlambat sholat berjamaah.

Aku malu pada Syekh Ali Ghuraisyah, yang hanya menjadikan krak botol minuman yang ditutup sehelai kain lusuh

untuk meja dan kursi tamunya. Sementara di rumahku ada beberapa kursi,

meskipun kuno dan bukan sofa, yang cukup enak diduduki.

Aku malu pada Usamah, yang tak memiliki satu buah furnitur pun di rumah keempat istrinya,

sementara untuk amal sosial

dengan mudah dia akan mengeluarkan cek senilai ratusan juta dollar.

Mereka bukan orang miskin, tapi mereka adalah orang-orang yang memilih untuk hidup sederhana.

Aku takut berlimpahnya harta akan menyilaukan mata dan hatiku.
Takut nyamannya rumah dan kendaraan membuatku tak lagi mampu meletakkan harta di tangan,

tapi telah jauh meracuni hatiku.
Dan aku sungguh takut dengan ujian harta ini.

Biarlah kendaraan kami biasa saja, sepeda motor yang sudah cukup berumur dan mobil kuno 1990-an yang

sudah berkarat di beberapa sisinya. Asal dengan itu telah mampu membantuku beraktivitas dan

menghemat banyak hal dalam perjalanan.

Aku malu pada Rasul dan Abu Bakar, yang menempuh perjalanan Makkah-Madinah dengan berjalan kaki,

padahal mudah bagi beliau untuk meminta diperjalankan oleh Allah dengan Buraq sekalipun.

Aku malu pada Syekh Hasan Al-Banna & Syaikh Umar Tilmisani, yang lebih memilih naik kereta kelas ekonomi untuk

berdakwah di seantero Mesir, meski secara finansial sangat mampu untuk naik kereta kelas di atasnya.

Aku malu pada pemuda Taufiq Wa’i, yang tak mau hanya sekedar naik taxi seperti saran bunda Zainab Al-Ghazali,

karena khawatir tak mampu menyikapi fasilitas itu dengan benar.

Biarlah kemana-mana aku ingin naik angkutan umum kelas ekonomi, selagi fisik mampu diajak berkompromi.

Bukan naik taxi atau kelas eksekutif.

Bukan karena sayang mengeluarkan uang, tapi sungguh bersama orang-orang

berbagai tipe di kelas ekonomi itu, banyak pelajaran yang

dapat kuambil, dan itu mampu melembutkan hati.



Biarlah aku memiliki baju secukupnya saja, tak harus mengikuti model terbaru.

Yang penting masih utuh dipakai dan cukup pantas dilihat orang.

Aku takut menjadi penganut paham materialis,

berburu berbagai koleksi baju, kerudung, tas, alat tulis, perlengkapan elektronik...

bukan karena perlu tapi hanya sekedar ingin.

Aku malu pada khalifah kelima, Umar bn Abdul Aziz, yang setelah menjadi khalifah justru memilih

jenis pakaian yang paling kasar

dan paling murah pada pedagang yang sama,

hingga membat takjub si pedagang karena sebelumnya sang Umar

adalah seorang yang sangat memperhatikan penampilan.


Aku bahagia, saat melihat pak NN dengan istri dan ke-6 anaknya yang kecil-kecil

dapat berteduh di salah satu rumah kami

tanpa bayar sejak 8 tahun lalu. Jujur, melihat kehidupan perekonomian mereka

yang makin membaik, kadang tergoda untuk mulai

menerapkan prinsip ’profesional’ dengan perjanjian sewa.

Tapi, Astaghfirul-Lah.. kembali kutepis keinginan itu. Mungkin,

justru lewat wasilah doa-doa tulus pak NN-lah, Allah selalu

memberikan rezki yang berlebih padaku dan keluarga.

Ya Rabb, biarkanlah rumah itu menjadi ladang amal pintu pembuka rahmatMu bagi kami.

Aku bahagia, meski piutang-piutang kami untuk berbagai keperluan pada beberapa orang tak kunjung terbayarkan

sampai berbilang tahun bahkan berpuluh tahun.

Aku pun tak ingat lagi persis jumlah nominalnya.

Aku percaya, mereka semua bukan tak mau membayar,

tapi belum mampu membayar.

Tentu mereka malu untuk tiap waktu hanya menghubungi lalu mohon maaf dan

meminta penangguhan waktu pembayaran.

Mereka juga manusia, yang memiliki izzah.

Biarlah, mungkin mereka butuh waktu.

Mungkin Allah sedang mengajarkan arti ikhlas pada kami.

Biarlah, kalau memang ternyata sampai nanti pun tak mampu terbayarkan,

Allah yang akan menggantinya dengan yang lebih baik. Insya Allah....

Bahkan, mungkin dari mulut-mulut merekalah, teman-teman yangn membutuhkan itu,

meluncur doa-doa ikhlas untuk kami sekeluarga,

yang langsung didengar Allah di Arsy sana,

hingga Allah berikan kemudahan rizki pada kami.

Aku ingat, salah seorang teman yang sudah cukup lama berhutang sekian juta,

demi mengetahui bahwa aku akan menunaikan

ibadah haji beberapa tahun lalu, dia mengirim sms: "Semoga hajimu mabrur ya Ning.

Jangan lupa aku titip doa, doakan aku

agar semua masalahku terangkat, kehidupanku menjadi lebih baik,

dan aku dapat segera menunaikan kewajibanku pada

kalian yang sudah tertunda sekian tahun.

Aku malu sebetulnya bicara begini. Tapi aku tahu, kalian bisa menerima dengan lapang".
Sungguh aku terharu dan menetes air mataku membaca sms itu.


Sumber : Ustdz Yusuf Mansyur

Rabu, 30 Maret 2011

Rautan Meja Kayu

Seorang perempuan renta memilih tinggal bersama anak bungsunya yang telah menikah. Semua anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Perempuan itu merasa bahagia dapat tinggal bersama anaknya, apalagi ditambah kehadiran cucunya yang baru berusia enam tahun. Celotehan dari mulut mugilnya menghapus kesepian dan kesendiriannya di masa tua.

Perempuan tua itu sudah sangat uzur. Lututnya sering gemetar tak kuat lagi menyangga beban tubuhnya sendiri. Tangannya pun sering bergetar saat memegang benda. Penglihatannya mulai rabun.

Sudah menjadi tradisi keluarga, setiap akhir minggu, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan malam bersama. Di ruang makan yang cukup luas, berkumpul seluruh anak-anak perempuan tua itu membawa serta keluarganya. Mereka sengaja datang dari luar kota untuk merayakan tradisi keluarga yang sudah sejak dulu dilakukan. Saat seperti inilah yang sangat dinanti sang perempuan tua itu.

Saat yang paling membahagiakan si perempuan tua, justru menjadi saat tak menyenangkan bagi anak-anaknya. Pada saat makan malam seperti inilah, terkadang perempuan tua yang sudah pikun itu sering membuat kacau acara. Tangannya yang lemah dan gemetar serta penglihatan yang mulai rabun, membuatnya sulit untuk memilih serta menyantap makanan. Tak jarang, sendok dan garpu jatuh ke lantai, sayur sup tumpah membasahi taplak meja, karena ia tak mampu lagi menyangga mangkuk sup. Saat ia meraih gelas untuk minum, gelas itu malah jatuh ke lantai lalu pecah berantakan.

Semua anak dan menantunya menjadi jengkel dan gusar dengan tingkah perempuan tua itu. Mereka merasa sangat direpotkan dengan semua kejadian itu. Si sulung lalu berkata, "kita harus melakukan sesuatu. Aku sudah muak dan bosan melihat kejadian seperti ini terus menerus, sehingga kita tidak bisa menikmati makanan yang kita santap."

Lalu, mereka berembug dan akhirnya sepakat untuk membuatkan sebuah meja kecil untuk ibu mereka. Meja kecil itu ditempatkan di salah satu sudut ruang makan, terpisah dari meja makan utama. Di kursi serta meja itulah, perempuan tua itu akan duduk untuk menikmati makan malamnya, sendirian. Meja kecil itu juga dilengkapi dengan piring dan gelas kayu, agar tak pecah saat terjatuh.

Acara makan malam berikutnya berlangsung sukses. Tak ada lagi kekacauan yang disebabkan oleh perempuan renta itu. Semua orang makan dengan lahap. anak-anaknya menyantap makanan dengan lahap tanpa terganggu oleh ulah sang nenek. Agar nenek tua itu tidak memecahkan piring serta gelas, anak-anaknya membuatkan juga mangkuk serta gelas dari kayu.

Begitulah seterusnya, acara makan malam mereka tidak lagi terganggu sehingga mereka benar-benar menikmati kelezatan makanan yang mereka santap.

Di sudut ruangan, perempuan itu tetap berusaha menikmati makan malamnya, meski kali ini ia harus tersingkir dari anak-anaknya sendiri. Perempuan tua itu merasa sangat sedih. Air matanya mengalir melewati gurat keriput di pipinya saat ia menyuapkan nasi ke mulutnya yang tak lagi bergigi.

Sejak si nenek disingkirkan di sudut ruangan, cucunya yang biasa bermain dengannya merekam kejadian yang menimpa neneknya itu ke dalam otaknya. Setiap acara makan malam bersama, ia selalu melihat kesedihan di wajah tua neneknya.

Suatu malam, setelah acara makan malam bersama selesai, ia mengambil sepotong kayu dan meraut kedua ujungnya. Ayahnya yang melihat hal itu lalu bertanya, "Nak, kamu sedang membuat apa?"

"Oh, aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, seperti halnya Ayah membuatkan untuk nenek. Kalau Ayah dan Ibu sudah tua seperti nenek, aku akan meletakkan meja ini di sudut ruang makan, persis seperti nenek," jawab anak itu sembari melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban spontan itu membuat kedua orangtuanya terkejut dan sangat terpukul. Mulut mereka terkatup rapat dan tidak mampu mengeluarkan satu kalimat pun. Mereka tidak menyangka bahwa anaknya yang baru berumur enam tahun, mampu berkata seperti itu. Bersamaan dengan itu, airmata mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, mereka mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Setelah kejadian malam itu, Si Bungsu selalu memapah ibunya ke meja makan untuk bersantap dan duduk berkumpul bersama dengan anak-anaknya. Tak ada lagi omelan yang keluar dari mulut mereka pada saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak meja ternoda. Mereka makan bersama lagi di meja utama. Dan anak kecil itu, kini tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Ya, anak-anak adalah pencerminan dari diri kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap bangunan jiwa yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. Hidup ini seperti kita menyusun mozaik. Mari, susunlah mozaik dan bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.

Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.

Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.

Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

Peran orang tua sangat penting dalam perjalanan hidup anak-anaknya, karena kita, seperti diistilahkan Khalil Gibran, adalah busur. Busur yang kokoh akan mampu melesatkan anak-anak panah dalam menapaki jalan masa depannya. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini. Kita juga selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita.


Sumber : Cyber News

Benih dan Pedagang Keliling

Seorang pedagang keliling menjajakan dagangannya berkelilling kampung. Seperti biasanya, sang pedagang keliling itu selalu ditemani putranya. Siang itu mentari bersinar terik, memaksa mereka berdua yang kelelahan untuk beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon. Mereka duduk di atas sehelai tikar di bawah sebuah pohon besar.

Angin sepoi semilir berhembus, membuat sang pedagang itu mulai mengantuk. Namun sang bayu tak mampu membuai putra si pedagang, ia terus berpikir tentang dirinya dan keinginannya. Tiba-tiba, "Ayah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan..." terdengar suaranya mengusik ambang sadar si pedagang.

"Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa ikut memikul dagangan kita?"

"Sepertinya, aku tak akan bisa besar. Tubuhku kurus kerempeng dan kecil seperti Ibu, sangat jauh berbeda dengan postur tubuh Ayah yang tegap dan berbadan kekar, sehingga mampu memikul dagangan yang begitu berat serta berjalan kaki setiap hari. Kupikir, dengan keadaan fisik tubuhku seperti ini, tak mungkin aku sanggup memikul dagangan kita," lanjutnya. Jari tangannya mengores-gores di atas tanah.

Belum sempat ayahnya menjawab, ia kembali melanjutkan, "bagaimana caranya agar tubuhku bisa menjadi kekar dan gagah sepertimu, Ayah?"

Sang Ayah yang awalnya mengantuk, menjadi terbangun dan seketika hilang rasa kantuknya mendengar pertanyaan anaknya. Reflek, tangan pedagang tadi mencabut sebuah benih tanaman yang sedang bertunas, yang kebetulan tumbuh tidak jauh dari tempat mereka duduk beristirahat. Dicabutnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benih itu terlihat seperti biji kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Beberapa saat kemudian, pedagang tadi bicara dengan anaknya.

"Nak, jangan pernah malu dengan ukuran tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang seperti ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama".

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah, Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Untuk tumbuh menjadi sebesar pohon ini, setiap benih membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Untuk itulah, semua benih ini berterima kasih kepada angin, air dan cahaya matahari, sebab mereka lah yang melatih benih-benih kecil sehingga mereka tumbuh menjadi pohon yang besar."

"Saatnya nanti akan tiba, kamu akan tumbuh menjadi pemuda dan akan mempunyai postur tubuh seperti ayah. Untuk itu janganlah pernah takut untuk berharap menjadi besar, untuk mencapai proses itu hanya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran."

Selesai mengucapkan kalimat itu, si pedagang memandang anaknya dengan penuh kasing sayang. Mata mereka beradu pandang, terlihat senyuman di wajah mereka. Si bocah tampak puas dengan penuturan sang ayah.

Keduanya lalu merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak mereka. Tidak lama kemudian, keduanya terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian berjalan kaki menyusuri panasnya aspal jalanan.

Dalam hidup ini, janganlah pernah kita merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah SWT, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan.

Mungkin pada saat tertentu, kita pernah merasa kecil, tidak mampu, tidak berdaya sama sekali menghadapi persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?

Kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?

Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tentu saja tidak. Karena Ia Maha Tahu, bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan.

Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam diri kita dan itu sudah menjadi fitrah hidup kita.

Sumber : Cyber News

Banana Split..

Satu sore di sebuah mal, seorang anak berusia sekitar 8 tahun berlari kecil. Dengan baju agak ketinggalan mode, sandal jepit berlumur tanah, berbinar-binar senyumnya saat dia masuk ke sebuah counter es krim ternama.

Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, dia harus berjinjit di depan lemari kaca penyimpan es krim. Penampilannya yang agak lusuh jelas kontras dibanding lingkungan mal yg megah, mewah, indah dan harum.

“Mbak, Sunday cream berapa?” si bocah bertanya, sambil tetap berjinjit agar pramusaji dapat melihat sedikit kepalanya,
yang rambutnya sudah lepek basah karena keringatnya berlari tadi. “Sepuluh ribu!” yang ditanya menjawab.

Si bocah turun dari jinjitannya, lantas merogoh kantong celananya, menghitung recehan dan beberapa lembar ribuan lusuh miliknya.

Kemudian sigap cepat si bocah menjinjit lagi. “Mbak, kalo Plain cream yang itu berapa?”

Pramusaji mulai agak ketus, maklum di belakang pelanggan yang ingusan ini, masih banyak pelanggan “berduit” lain yang mengantri. “Sama aja, sepuluh ribu!” jawabnya.

Si bocah mulai menatap tangannya di atas kantong, seolah menebak berapa recehan dan ribuan yang tadi dimilikinya.
“Kalau banana split berapa, Mbak?”

“Delapan ribu!” ujar pramusaji itu sedikit menghardik tanpa senyum.

Berkembang kembali senyum si bocah, kali ini dengan binar mata bulatnya yang terlihat senang, “ya, itu aja Mbak, tolong 1 piring”. Kemudian si bocah menghitung kembali uangnya dan memberikan kepada pramusaji yang sepertinya sudah tak sabar itu.

Tidak lama kemudian sepiring banana split diberikan pada si bocah itu, dan pramusaji tidak lagi memikirkannya. Antrian pelanggan yang tampak lebih rapi dan berdandan trendi banyak sekali mengantri.

Detik berlalu menit, dan menit berlalu. Si bocah tak terlihat lagi dimejanya, Cuma bekas piringnya saja. Pramusaji tadi bergegas membersihkan sisa pelanggan lain. Termasuk piring bekas banana split bekas bocah tadi.

Bibirnya sedikit terbuka, matanya sedikit terbebalak. Ketika diangkatnya piring banana split bocah tadi, di baliknya
Ditemukan 2 recehan 500 rupiah dibungkus selembar seribuan. Apakah ini? Tips? Terbungkus rapi sekali... rapi !

Terduduk si pramusaji tadi, di kursi bekas si bocah menghabiskan Banana splitnya. Ia tersadar, sebenarnya sang bocah tadi bisa saja Menikmati Splain Cream atau Sunday chocolate, tapi bocah itu mengorbankan keinginan pribadinya dengan maksud supaya bisa memberi tips kepada dirinya. Sisa penyesalan tersumbat di kerongkongannya. Disapu seluruh
lantai dasar mall itu dengan matanya, tapi bocah itu tak tampak lagi.


Sumber : Cyber News